~~Kiasan "Bila Rumi Menari -M. Nasir~~



~~Kita menari bukan sebarang tarian...
Asalnya dari tanah orang-orang pilihan...
Bila terdengar masnawi ciptaan maulana...
Ku bunuh nafsu lebur rantainya dari badan...

~~Hingga hilang bangga diri...
Berani hidup berani mati...
Bagai musafir bertemu janji...
Ini Darwis sudah gila berahi...

~~Kita tak rindu pada siasah dunia...
Perangkapnya membuat manusia hampa...
Untuk bertemu impian bukan percuma...
Mengorbankan yang tersangat kita cinta...

~~Bagai Yunus di makan paus...
Ibrahim tak makan api...
Bertemu kekasih di malam kudus...
Luka di badan tak terasa lagi...
Pukullah rebana jantungku bersyairlah maulana...
Aku mabuk hakiki mendengar suaramu...

~~Sayang... pada mereka yang tak mengerti...
Sayang... pada hati tertutup mati...
Bagaikan sangkar tanpa penghuni...
Burung berharga terlepas lari...

~~Rindu (Ya Maulana)...
Kembali bertemu (Ya Maulana)...
Hatiku merindukan pemiliknya (Ya maulana)...
Rindu (Ya maulana)...
Kembali bersatu (Ya maulana)...
Kembali bersatu dengan yang dikasihi/ Kekasih...~~

*** 

(Makna Lirik)

~~Secara keseluruhan, 'Bila rumi menari' berkisarkan tentang betapa kerinduan penulis kepada Allah memuncak dan merintih sayu ingin 'kembali'. Sehingga di rangkap terakhir dua cinta telah menjadi satu...

~~Rangkap pertama, 'Tarian' dimaksudkan dengan lenggok zikir bagaikan selembut bayu berhembus. Namun, bukan lenggok biasa, bahkan lenggok  yang terpilih. 'Asalnya dari tanah orang-orang pilihan' bermaksud zikir yang diwarisi itu berasal daripada orang-orang terpilih iaitu Rasul Allah, kehebatan zikir itu sendiri yang membuatkan segala nafsu tua yang bertunjangkan diri hancur terlerai dari rantai yang membelenggu.

*Masnawi = puisi parsi; digunakan untuk puji-pujian
*Maulana = Ulama besar.

~~Menyebutlah nama Tuhannya sehingga terkesan di hati, lalu cariklah sifat bangga yang tersemat kukuh di hati. 'Berani hidup berani mati' bermaksud penulis sanggup bergadai nyawa demi melunaskan sebuah janji lama yang perlu dipenuhi (janji di luh mahfuz). 'Musafir' simbolik kepada kerohanian penulis, di mana sang kerohanian itu mengembara mencari cinta hakiki. Penulis mengakui dirinya sebagai Darwis iaitu orang yang faqir dalam mencintai Allah.

* Darwis = Orang yang sengaja hidup susah untuk mencari ketenangan jiwa.

~~Rangkap ketiga, penulis mengatakan bahawa dia tidak mahu bersangkut dengan hal-hal keduniaan di mana siasah itu hanya mengimbal hampa. Untuk bertemu "Kekasih" bukan percuma, bahkan perlu mempertaruh dunia iaitu perkara yang sangat dicintai manusia.

~~Rangkap keempat, Penulis menerokai alam roh. Perumpamaan digunakan 'Bagai Yunus di makan paus' dan 'Ibrahim tak makan api' sebagai gambaran bahawa apabila roh bertemu dzat Allah, tiada apa lagi yang dapat memberi kesan atau menggugat rasa cinta itu. Bahkan semakin kukuh terpatri di hati. "pukullah kalimah ucapanmu tepat ke jantung" dengan demikian bersyairlah maulana mabukkan cinta hakiki mendengar suaranya. 'Maulana' dalam rangkap keempat ini bermaksud 'kerohanian' penulis.

~~Rangkap kelima, penulis kesal bagi pihak mereka yang tidak mengerti... kerana hati mereka tertutup mati. Hati dan jiwa mereka ibarat sangkar kosong, tiada penghuni. 'Burung berharga terlepas lari'... kasyaf imani telah tiada...

~~Rindu Maulana pada DIA. Kembali bertemu dengan 'Diri'. Hatiku merindui Pemilik Diri, Pemilik Dzat (Allah). Rindu Maulana pada DIA. Kembali bersatu dua cinta. Kembali bersatu dengan yang dikasihi/Kekasih...~~

Wallahu'alam

Bila Rumi Menari_M.Nasir

Sumber gambar

3 comments:

  1. Cinta Agung kepada sang Maha Pencipta.... Hilanglah diri di dalam diri...

    ReplyDelete
  2. Arwah loloq penulis lirik...kalau xsilap

    ReplyDelete

Copyright© All Rights Reserved sofya-mencaridiri.blogspot.com