~~Kiasan "Suatu Masa" _M.Nasir~~


~~Bagaimanakan ku mula...
dan apakah kata-kata...
Yang indah untuk diabadikan...
Tiap wajah berkisah...
Tiap madah Bererti..
Manakah ilhamku...

~~Cahaya di matamu...
senyum di bibirmu...
mengukir seribu tanda pertanyaan,..
Mungkinkah kau jua...
Dalam kerinduan...
Di saat begini...aku merindukan...

~~Berhelai-helai surat...
Terbiar di depanku... Tak dapat aku utuskan
Ku ramas semua... dan ku buangkan jauh..
Dari pandangan...

~~Lalu aku kesal... ku kumpul semula...
Tak dapat ku nyatakan apa yang ku rasa...
Jika engkau tahu di dalam hatiku...
mungkinkah kau sahut...
jeritan batinku...

~~Dengarkanlah panggilanku... 
dengarkanlah lagu untukmu...
Angin lalu... kau sampaikan 
Rasa rindu yang mebara kepadanya...

~~Warna-warna cintaku...
Kian pudar bersama...
malam yang gelap gelita...
Entahkan kau rasakan...
Apa yang aku rasa...
Atau kau tak endah...

~~Tapi ku percaya...semua telah tertulis...
 dan niat suciku takkan disiakan...
dan di suatu masa.... di hari yang indah...
ku hulur tanganku...lalu kau terima...

***

(Makna Lirik)

~~Suatu masa, suatu ketika, waktu yang telah berlalu, namun takkan terkubur walau dalam ingatan, dalam hati... ia tetap di situ. Apakah ia?

~~Rangkap pertama (dan secara keseluruhan lagu) menceritakan tentang seorang hamba yang kembali menagih kasih Allah. Setelah lama terbiar sepi, pastilah sukar untuk mencorak langkah pertama sebagai sambugan langkah terdahulu yang telah mati kaku. Apakah kata-kata indah yang perlu dilafazkan? Hanya untuk Dia...

*'tiap wajah berkisah... tiap madah bererti... manakah ilhamku...' bermaksud sang hamba menemui petunjuk yang mendorong kepada jalan menuju Allah. Namun, di mana Dia?

~~Diri sudah bertemu, tetapi di mana Diri yang Hakiki? ketenangan Diri itu sukar ditafsirkan. Dalam tenang ada resah membelenggu, dalam tenang ada gelisah terikat. Diri dan diri merindui Diri Hakiki... (rujuk guru)

~~'Surat' bermaksud 'risalah' zikir telah dihimpunkan, namun sekadar berlagu di alam malakut. Tiada sampai kepada Diri Hakiki. Di alam Malakut, masih bergelumang dengan godaan hawa dan nafsu, lalu Sang Hamba mula berputus asa dalam mencari Dia.

~~Kesal bertandang membuatkan Sang Hamba kembali kekal dalam lorong yang benar.

~~"Ya Allah, dengarkanlah panggilanku, dengarkanlah 'lagu' untukMu. Wahai angin (nafas naik dan nafas turun) sampaikanlah rasa rinduku kepada Tuhanku."

~~Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui segala perkara tentang hambaNya.

~~Kekosongan jiwa malam itu, adalah secebis rezeki yang dikurniai Allah untuk hambaNya. Dia amat menyukai hambaNya yang sering merayu kasihNya. Pasti di suatu masa, di hari yang telah dijanjikan untuk hamba itu, Dia akan menerima 'huluran' taubat hambaNya.

Wallahua'lam

Suatu Masa_M.Nasir

Copyright© All Rights Reserved sofya-mencaridiri.blogspot.com